Pasar Gede
Pasar Gede merupakan pasar terbesar di Kota Solo. Pasar Gede merupakan ikon kota Solo. Pasar Gede terkenal dengan Tugu Jam Besar yang berdiri di Depan Pasar. Pasar Gede secara harafiah berarti “Pasar Besar” dalam bahasa Jawa. Pasar Gede merupakan pasar tradisional. Pasar Gede terdiri dari dua bagian. Pasar Gede sebelah barat dan sebelah timur. Pasar Gede sebelah barat digunakan untuk tempat berjualan buah-buahan (kios buah), sedangkan sisi timur digunakan untuk pasar tradisionar seperti penjual sayur, ikan segar, daging, dsb. Selain itu, Pasar Gede juga menjual beraneka makanan ciri khas solo seperti keripik cakar, keripik usus, jadah dan wajik, jenang rasikan, sambel pecel. Di Pasar Gede juga terkenal jajanan minuman seperti Dawet. Dawet Pasar Gede sangat terkenal. Terdapat dua penjual dawet yang terkenal enak yaitu Dawet Bu Dermi dan Dawet Bu Wati. Di Pasar Gede juga ada penjual tengkleng. Tengkleng Pasar Gede juga enak tetapi masih belum terkenal seperti Tengkleng Klewer Bu Edi.
Sejarah
Pada zaman kolonial Belanda, Pasar Gede mulanya merupakan sebuah pasar kecil yang didirikan di area seluas 10.421 hektare, berlokasi di persimpangan jalan dari kantor gubernur yang sekarang berubah fungsi menjadi Balaikota Surakarta. Bangunan ini dirancang oleh seorang arsitek Belanda bernama Ir. Thomas Karsten. Bangunan pasar selesai pembangunannya pada tahun 1930 dan diberi nama Pasar Gedhé Hardjanagara. Pasar ini diberi nama pasar gedhé atau “pasar besar” karena terdiri dari atap yang besar. Seiring dengan perkembangan masa, pasar ini menjadi pasar terbesar dan termegah di Surakarta. Pasar gede terdiri dari dua bangunan yang terpisahkan jalan yang sekarang disebut sebagai Jalan Sudirman. Masing-masing dari kedua bangunan ini terdiri dari dua lantai. Pintu gerbang di bangunan utama terlihat seperti atap singgasana yang kemudian diberi nama Pasar Gedhé dalam bahasa Jawa.Gaya bangunan
Arsitektur Pasar Gede merupakan perpaduan antara gaya Belanda dan gaya Jawa. Pada tahun 1947, Pasar Gede mengalami kerusakan karena serangan Belanda. Lalu Pemerintah Republik Indonesia yang kemudian mengambil alih wilayah Surakarta dan Daerah Istimewa Surakarta kemudian merenovasi kembali pada tahun 1949. Namun perbaikan atap selesai pada tahun 1981. Pemerintah indonesia mengganti atap yang lama dengan atap dari kayu. Bangunan kedua dari Pasar Gede, digunakan untuk kantor DPU yang sekarang digunakan sebagai pasar buah.Lokasi Pasar Gede
Vihara Avalokiteśvara persis di seberang jalan, selatan Pasar Gede.
Pasar Gede terletak di seberang Balaikota Surakarta pada jalan Jendral Sudirman dan Jalan Pasar Gede di perkampungan warga keturunan Tionghoa atau Pecinan yang bernama Balong dan terletak di Kelurahan Sudiroprajan. Para pedagang yang berjualan di Pasar Gede banyak yang keturunan Tionghoa pula. Budayawan Jawa ternama dari Surakarta Go Tik Swan yang seorang keturunan Tionghoa, ketika diangkat menjadi bangsawan oleh mendiang Raja Kasunanan Surakarta, Ingkang Sinuhun Pakubuwana XII mendapat gelar K.R.T. (Kangjeng Raden Tumenggung) Hardjonagoro karena kakeknya adalah kepala Pasar Gedhé Hardjonagoro.
Dekatnya Pasar Gede dengan komunitas Tionghoa dan area Pecinan bisa dilihat dengan keberadaan sebuah kelenteng, persis di sebelah selatan pasar ini. Kelenteng ini bernama Vihara Avalokiteśvara Tien Kok Sie dan terletak pada Jalan Ketandan.
Post a Comment